Kamis, 30 Agustus 2012

SHALAWAT INSAN ASSALAM YA ASSALAM


Assalam Ya Assalam

Zainal Abidin
-------------------------------------------------------------------------
Assalam ya Mursala Sayyidarrasul
Assalam ya Muhammad Shalallahu alaihiwassalam
Assalam ya Assalam…

Ruh umat ya insan berawal dari Ahmad
Rasul Awwalun Hayat  Shalallahu alaihiwassalam
Assalam ya Assalam…

Assalam ya Mustafa  Assalam ya Habibi
Assalam ya Muhammad Shalallahu alaihiwassalam
Assalam ya Assalam…

Bermula di alam sifat, terbit alam basirah
Jasad insan  bernampak, jasad sifat mulanya
Assalam ya Assalam…

Assalam ya Mursala Sayyidarrasul
Assalam ya Muhammad Shalallahu alaihiwassalam
Assalam ya Assalam…


Ahmad ya Sifatullah, insan sifaturrasul
Rasul Fatih ‘Alamin, Shalallahu alaihiwassalam
Assalam ya Assalam…

Assalam ya MustafaAssalam ya Habibi
Assalam ya Muhammad Shalallahu alaihiwassalam
Assalam ya Assalam…

Jasad Ahmad ya Bayan,wujud alam basirah
Muhammadurrasulullah, hamba pilihan Allah
Assalam ya Assalam…

Assalam ya Mursala Sayyidarrasul
Assalam ya Muhammad Shalallahu alaihiwassalam
Assalam ya Assalam…


Link download audio Shalawat Insan
 (suara asli ; penyusun dan syair : Zainal Abidin)






Selasa, 28 Agustus 2012

Asma Muhammad menyambut kelahiran Musyafaah


Nama Lengkap         :  Musyafaah
Nama Panggilan        :  Syafa
Arti Nama. Musyafaah nama yang diberikan oleh syeh H. Syaiful Amir guru pembimbing iman Zainal Abidin (ayah Musyafaah). Nama Musyafaah dihitung dengan nama kedua orangtua, menurut metode penghitungan guru bahwa nama ini cocok dengan nama kedua orangtua. Musyafaah nama dari serapan bahasa Arab memiliki arti ; orang yang mendapatkan pertolongan.
Lahir                           : 9 Nopember 2008
Kota dilahirkan            : Banjarmasin.
Gender                        : Perempuan.
Urutan Anak                : Pertama (Tunggal)
Ciri Khusus                  : Jari tangan sebelah kiri 6 buah.
Nama orangtua             : Zainal Abidin dan Rachmaniah

Astaqfirullah Nurun ‘Azim. Bismillahirrahmanirrahim, Alhamdulillah,
Bagi kami orangtua, mohon ampun kepada Rasul dan Allah, bersyukur pula atas karunia diberikannya kelahiran seorang anak perempuan. Ada peristiwa istimewa sebelum maupun sesudah kelahiran Musyafaah. 2 (dua) bulan sebelum Musyafaah lahir, suatu malam Saya diantara dalam keadaan jaga dan tidur, Saya tiba-tiba terangkat dari pembaringan menembus plapon kamar, naik hingga berhenti persis di langit di hadapan bulan. Subhanallah, dengan terang dan jelas melihat bulan purnama penuh dengan cahaya kuning bertuliskan asma MUHAMMAD (Huruf Arab). Sesudah Musyafaah lahir, dan pada saat usianya sekitar 3 (tiga) bulan, hal sama terulang lagi. Tetapi saya melihat asma MUHAMMAD (Huruf Arab) bersama Musyafaah. Lalu saya sering berkata dalam hati, nanti ada kelebihan tertentu pada diri anak kami Musyafaah. Alhamdulillah, hal istimewa yang terjadi pada perkembangan pertumbuhan fisik dan mentalnya sungguh melebihi dari anak lainnya. Daya tahan tubuh Musyafaah kuat. Sewaktu pertama kali bisa bicara yang disebutnya adalah ALLAH. Di usianya 3,5 bulan sudah mengerti kematian secara fisik dan secara hakikat. Terjadi saat bayi salah satu family kami meninggal dunia. Awalnya Musyafaah merasa keheranan. Lalu dijelaskan atas petunjuk Al-HUDA. Sehingga ia tahu kemana jasmaniah dan kemana rohaniah tempat kembalinya.

Jumat, 17 Agustus 2012

Adab Jahir Terhadap Kedudukan Hati

Astagfirullah Nurun ’Azim.
Bismillahirrahmanirrahim.
Alhamdulillahirabbil’alamin.
Allahumma shali ‘ala Muhammad ‘alal ‘alamin qudussissalam wa’ala ali Muhammad ‘alal ‘alamin qudussissalam.
Karena Rahmat, seorang hamba dijumpai Rasulullah baik melalui mimpi atau saat jaga. Sebagaimana dalam beberapa hadits.
Barangsiapa melihat aku diwaktu tidur, maka dia akan melihat aku di waktu terjaga atau ( dia seakan-akan melihat aku di waktu terjaga ) setan tidak dapat menyerupai aku.” (HR.Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi).
Abdullah bin Mas’ud ra. Bahwa Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:
Barangsiapa melihatku di dalam mimpi, maka ia benar-benar telah melihat diriku karena setan tidak dapat menyerupaiku.” (HR Timidzi, Ibnu Majah, Darami dan Ahmad).
Abu Hurairah ra. Meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:
Barangsiapa melihatku di dalam mimpi, maka ia benar-benar telah melihat diriku karena setan tak dapat menyerupaiku.” (H.R Tirmidzi, Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad).
Thariq bin Asyyam meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda,
Barangsiapa melihatku di dalam mimpi, maka ia benar-benar telah melihat diriku.” (H.R Ahmad).
Abu Qatadah meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,
Barangsiapa melihatku di dalam mimpi maka ia benar-benar telah melihat sesuatu yang benar.” (HR Tirmidzi, Bukhari, Muslim, Darami dan Ahmad).
Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Barangsiapa melihatku di dalam mimpi, maka ia benar-benar telah melihat diriku karena setan tidak dapat menyerupaiku.”
Ilmu seorang hamba tidak bisa menjangkau Rasulullah, namun yang dapat mencapai adalah Rahmat. Rahasia tentang KERASULAN tetap tersimpan tanpa seorang manusia yang mengetahui kecuali bila Rasulullah sendiri meridhai dengan Rahmat, sehingga seorang hamba diberikan pengetahuan. Sehingga atasnya mengerti tentang Rasulullah Muhammad SAW pada pandangan terhadap lahiriah Beliau sebagai seorang hamba Allah, dan mengertilah rahasia batin Beliau dalam pandangan hakikat bahwa sebenarnya mengenai RASULULLAH.
Insan itu sebagai mahluk memiliki kedudukan tinggi dari mahluk lain ciptaan Allah. Allah sempurnakan insan baik jahir maupun batin. Hingga layak bila berahlak baik, dan sangat disayangkan mensia-siakan pemberian Allah dengan berahlak buruk. Untuk mencapai suatu Rahmat terlibat pula upaya-upaya seorang hamba agar dapat ma’rifat kepada Rasulullah Muhammad SAW dan Allah. Sesuai dengan Tauhid sebagai seorang muslim, hamba yang beriman dan taqwa, dengan kalimah : Asyhadualla ilaha illallah wa asyhaduanna Muhammadarrasulullah.
Mengenai ma’rifat sesuai dengan syahadat, mencapai Rahmat dengan salah satu cara atau tarikah, yakni berahlak baik terhadap kedudukan hati. Adab jahir kepada kedudukan hati sebagai suatu upaya untuk mencapai salah satu Rahmat supaya ma’rifat kepada Rasulullah dan Allah.
Memperhatikan cara duduk dan tidur dengan mengadabkan kaki dan lutut terhadap dada, sungguh sering luput dalam perhatian sebahagian umum orang-orang dalam kehidupan sehari-hari mereka. Baik seseorang sedang berada bersama oranglain maupun tatkala ia sedang sendirian, lebih utamakan adab tersebut. Karena dimanapun ia berada, Allah ada di dekatnya.
Seperti diterangkan dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 115:
Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, Maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah[*]. Sesungguhnya Allah Maha luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.
[*] Disitulah wajah Allah maksudnya; kekuasaan Allah meliputi seluruh alam; sebab itu di mana saja manusia berada, Allah mengetahui perbuatannya, Karena ia selalu berhadapan dengan Allah.
Sesungguhnya meninggikan kaki dan lutut dari dada tiada disadari kurang berahlak baik, atau kurang beradab baik terhadap kedudukan hati, sehingga tiada disadari pula telah menjauhi dari salah satu Rahmat. Karena seorang insan yang iman dan taqwa ingin ma’rifat terhadap Rasulullah dan Allah, wajib memperhatikan salah satu adab ini.
Menyimak sebuah hadits qudsi,
Qalbu mukmin Baitullah.”
“Qalbu orang yang beriman itu adalah rumah ALLAH.”
Dengan rasa dan pikiran yang jernih, apakah patut kaki atau lutut saat duduk atau berbaring meninggikan posisinya dari dada. Sedangkan isi dada itu ada qalbu dan bagi orang yang beriman, qalbunya adalah rumah Allah.
Bayangkan saja seorang rakyat biasa yang menghadap kepada seorang Raja atau Presiden dengan duduk seenaknya menekuk kaki dan lutut hingga mencapai ketiak, apakah hormat? Bagaimanakah tanggapan Raja atau Presiden? Suka atau marah?
Begitu pula beradab kah jika seperti demikian seseorang terhadap Allah? Raja atau Presiden saja tidak senang diperlakukan dengan abad demikian, dan orang biasa pun tidak senang di depannya seseorang disikapi dengan adab demikian.
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab : 21)
Rasulullah Muhammad SAW mengajarkan ahlak baik, sehubungan dengan adab pada bahasan ini.
Sabda Rasulullah: “Berbaringlah di atas rusuk sebelah kananmu.”  (HR. Al- Bukhari no. 247 dan Muslim no. 2710)

Maka sangat jelas berbaring dalam posisi sebagaimana dalam hadits tersebut, posisi kaki dan lutut tidak lebih meninggikan pada posisi dada. Rasulullah Muhammad SAW mengetahui rahasia terhadap isi dada manusia yang didalamnya terdapat qalbu, sehingga memberikan contoh untuk beradab baik terhadap kedudukan hati.

Dari al-Barra` bin Azib, Rasulullah Muhammad saw pernah bersabda, “Apabila kamu hendak tidur,maka berwudhulah (dengan sempurna) seperti kamu berwudhu untuk shalat, kemudian berbaringlah di atas sisi tubuhmu yang kanan“.
Abdullah bin Zaid ra. menyampaikan bahwa ia telah melihat Rasulullah SAW telentang di masjid sambil meletakkan satu kaki di atas yang lain. (HR. Bukhari & Muslim)
Dengan posisi beliau telentang sambil meletakkan satu kaki di atas yang lain, menunjukkan kedua kaki beliau tidak menekuk ke atas meninggikan lebih daripada posisi dada.

Ditegaskan pula pada sebuah hadits qudsi mengenai kedudukan hati:
“Tidak dapat memuat dzat-Ku bumi dan langit-Ku, kecuali “Hati” hamba-Ku yang mukmin, lunak dan tenang
(HR Abu Dawud ).
Dengan demikian cukup sebagai petunjuk bahwa dalam “salah satu upaya” mengharap dan mencapai Rahmat, beradab baik saat duduk dan berbaring atau tidur dengan tidak meninggikan kaki dan lutut daripada posisi dada. Insya Allah salah satu Rahmat Allah cepat didapat (oleh seseorang yang memperhatikannya) — Rahmat yang belum didapat pada kebanyak orang-orang yang belum mendapat petunjuk mengetahuinya. Semoga Rasulullah Muhammad SAW meridhai kepada orang-orang yang berharap dan mengingat Allah baik dalam keadaan apapun dan dimanapun untuk mencapai insan ma’rifat. Assalam, ya Mursala – Alhamdulillah, Amin ya Rabbal’Alamin. * * *